Netranews.co.id, Sumenep – Pemerintah Kabupaten Sumenep menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan kerukunan umat beragama sebagai bagian penting dari pembangunan daerah. Kamis, 25 Desember 2025.
Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim mengatakan, pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga mencakup pembangunan sosial dan spiritual masyarakat.
“Kami menyadari Kabupaten Sumenep tanpa kerukunan tidak akan memiliki rasa aman. Kondisi itu akan berdampak negatif terhadap pembangunan yang tidak bisa berjalan dengan baik,” ujar Imam Hasyim saat Safari Kerukunan dan Pelatihan Early Warning System Konflik Berdimensi Agama di Aula Bappeda Sumenep, Rabu (24/12/2025).
Ia menjelaskan, di tengah perkembangan teknologi informasi, media sosial, dan arus globalisasi, dinamika masyarakat semakin kompleks. Situasi tersebut berpotensi memunculkan kesalahpahaman, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga konflik berlatar belakang agama jika tidak dikelola secara bijaksana.
Menurut Imam Hasyim, konflik yang kerap disebut sebagai konflik agama pada umumnya merupakan konflik sosial yang kemudian diberi label agama.
“Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan harus komprehensif dan melibatkan seluruh unsur masyarakat, mulai dari pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat keamanan, hingga generasi muda,” katanya.
Ia juga meminta seluruh pihak terkait untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi antarumat beragama, antarwilayah, serta antarlembaga guna mendeteksi potensi konflik sejak dini.
Langkah tersebut, kata dia, dilakukan agar potensi konflik dapat dicegah sebelum berkembang melalui identifikasi gejala, pemetaan kerawanan, serta penanganan yang cepat dan tepat.
“Kami meminta semua elemen di daerah menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan, demi membangun Kabupaten Sumenep,” ujar Imam Hasyim.
Ia berharap Safari Kerukunan dan pelatihan tersebut memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat serta menjadi kontribusi nyata dalam menjaga kedamaian dan persatuan di Kabupaten Sumenep.
“Safari kerukunan bukan sekadar ajang silaturahmi antarumat beragama, tetapi juga menjadi sarana dialog, komunikasi, serta penguatan nilai toleransi, saling menghormati, dan kebersamaan di tengah perbedaan,” pungkasnya. (Dim/red)
