Netranews.co.id, Sumenep – Sebanyak 28 sepeda motor milik warga hangus terbakar di area parkir umum yang berada di Desa Jukong-Jukong, Kecamatan Kangayan, Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Jum’at, 21 Agustus 2026.
Kebakaran tersebut terjadi pada Kamis (20/08) malam saat salah satu warga melihat api telah menghanguskan sebagian besar kendaraan warga yang sengaja diparkir di lokasi itu karena keterbatasan akses jalan menuju permukiman.
Berdasarkan keterangan warga setempat, area parkir tersebut selama ini menjadi titik yang digunakan warga Desa Tembayangan dan Cangkramaan untuk menyimpan kendaraan sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Mengetahui kebakaran itu, Camat Kangayan Nurullah bersama jajaran Polsek setempat bergegas ke lokasi dan berupaya memadamkan api, serta mengevakuasi warga.
“Malam ini terjadi kebakaran yang menghanguskan 28 sepeda motor. Untuk penyebab kami belum tahu, saat ini pihak Polsek Kangayan juga berada di lokasi bersama masyarakat,” kata Nurullah.
Sementara itu, Humas Polresta Sumenep, Ipda Ardan, membenarkan adanya peristiwa itu. Berdasarkan laporan sementara yang diterima kepolisian, tidak ada korban jiwa, sementara sebanyak 36 sepeda motor terbakar.
“Laporan sementara terkait terjadinya kebakaran sepeda motor di parkiran Desa Jukong-Jukong, tepatnya di parkiran milik warga Desa Tembayangan di atas Gunung Eteng,” kata Ipda Ardan saat dikonfirmasi, Kamis malam, 20 Agustus 2026.
“Adapun jumlah sepeda motor yang terbakar keseluruhan sebanyak 36 unit,” tandasnya.
Sqlah satu warga, Nur Aida mengatakan, keberadaan parkiran umum itu terjadi akibat kawasan permukiman berada di dataran tinggi dengan akses jalan yang terbatas sehingga sepeda motor sulit dibawa langsung menuju rumah.
Menurutnya, warga tidak memiliki banyak pilihan selain memarkirkan kendaraan di lokasi tersebut karena akses menuju rumah tidak memungkinkan dilalui sepeda motor.
“Kalau mau dibawa ke rumah tidak bisa, harus digotong, karena tidak ada akses jalan,” ujar Nur Aida.
Ia menjelaskan, warga yang jarang bepergian biasanya memilih menggotong sepeda motor hingga ke rumah meski harus melalui jalan memutar dengan jarak yang lebih jauh.
Sementara bagi warga yang memiliki aktivitas, kata dia, lebih sering ke pusat kecamatan maupun wilayah lain, memarkirkan sepeda motor di atas bukit dinilai lebih praktis.
“Bagi warga yang lebih sering beraktivitas ke kota, seperti sepekan sekali, motor lebih praktis diparkir di atas bukit tempat kebakaran terjadi,” paparnya.
Warga lainnya asal Desa Cangkramaan, Abdurrahman Saleh, menyebut area tersebut tidak hanya digunakan masyarakat Tembayangan, tetapi juga warga Cangkramaan yang membutuhkan akses cepat untuk beraktivitas menggunakan sepeda motor.
Ia menjelaskan, kondisi jalan utama menuju kedua desa tersebut mengalami kerusakan parah sehingga warga memilih menggunakan jalur pintas dengan meninggalkan kendaraan di area parkir atas bukit.
“Mayoritas motor yang terbakar itu milik warga Tembayangan dan Cangkramaan,” kata Rahman.
Hingga saat ini, penyebab kebakaran belum diketahui secara pasti karena warga tiba-tiba mengetahui adanya kobaran api di lokasi parkir tersebut.
Dugaan sementara mengarah pada puntung rokok yang dibuang sembarangan, terlebih kawasan tersebut berada dalam kondisi kering akibat musim kemarau yang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.
Rahman menilai kejadian tersebut juga memperlihatkan persoalan keterbatasan infrastruktur di wilayah Kepulauan Kangean, terutama karena lokasi parkir berada di dataran tinggi dan jauh dari permukiman.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat warga kesulitan melakukan evakuasi kendaraan maupun upaya pemadaman ketika kebakaran terjadi.
Hampir seluruh sepeda motor yang berada di lokasi tidak berhasil diselamatkan, sementara beberapa kendaraan lainnya masih dapat dievakuasi oleh warga.
Rahman yang juga merupakan aktivis mahasiswa menilai kerugian akibat kebakaran tersebut cukup besar karena kendaraan yang terbakar merupakan sarana utama warga untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Ia meminta pihak berwajib segera melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran serta memastikan ada atau tidaknya unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut.
“Terlebih di kawasan tersebut belum tersedia fasilitas maupun unit pemadam kebakaran,” pungkasnya. (Dim/red)
