Netranews.co.id, Sumenep – Mahasiswa Universitas Annuqayah (UA) memanfaatkan limbah air kolam lele untuk mendukung budidaya tanaman selada menggunakan sistem akuaponik.
Inovasi tersebut digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UA 2026 Posko 58 melalui program KKN Mandiri di lingkungan Koppontren Annuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Program ini memadukan budidaya ikan lele dengan tanaman hortikultura dalam satu sistem yang saling terintegrasi. Air dari kolam ikan dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman.
Ketua Kelompok KKN UA Posko 58, Ubaidillah, mengatakan, penerapan akuaponik menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi dalam kegiatan pertanian.
“Teknik ini akan mendukung efisiensi kinerja pertanian,” ujar Ubaidillah.
Dalam sistem akuaponik, sisa pakan dan hasil metabolisme ikan yang terkandung dalam air kolam tidak langsung dibuang. Limbah tersebut melalui proses biologis dengan bantuan mikroorganisme sehingga unsur yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman.
Dengan demikian, metode tersebut tidak hanya menghasilkan tanaman, tetapi juga membantu mengurangi potensi pencemaran yang berasal dari limbah budidaya ikan.
Program tersebut sekaligus diarahkan untuk melakukan diversifikasi komoditas dan meningkatkan produksi pertanian Unit Petani Assalam, salah satu unit usaha Koppontren Annuqayah.
Kepala Unit Petani Assalam, Abdul Gaffar, menyambut positif program yang dilakukan mahasiswa UA tersebut.
Menurut dia, penerapan akuaponik berpotensi menambah produksi pertanian sekaligus menjadi contoh yang dapat diterapkan masyarakat di sekitar lingkungan pesantren.
Program KKN itu juga tidak berhenti pada penerapan teknologi di lingkungan Petani Assalam. Mahasiswa berencana melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) di sekitar lokasi melalui pelatihan pembuatan sistem akuaponik.
Pelatihan tersebut juga akan diisi dengan penguatan pengetahuan mengenai pertanian, termasuk penggunaan pupuk dan dampaknya terhadap kondisi tanah maupun pertumbuhan tanaman.
Petani Assalam selama ini mengembangkan sejumlah komoditas pertanian dan peternakan. Unit tersebut memiliki sekitar 10 varietas tanaman hortikultura, serta membudidayakan puluhan ribu ekor lele dan sekitar 1.000 ekor bebek.
Hasil produksi kemudian dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan sejumlah warung lokal serta memasok kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Annuqayah.
Budidaya selada melalui sistem akuaponik juga dinilai memiliki peluang ekonomi. Permintaan selada di wilayah Sumenep meningkat seiring bertambahnya warung dan gerai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggunakan selada sebagai salah satu bahan pangan.
Selain itu, kebutuhan komoditas sayuran juga meningkat seiring beroperasinya SPPG yang melayani penyediaan makanan bagi peserta didik.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN UA berharap pemanfaatan teknologi akuaponik dapat menjadi alternatif pengembangan pertanian yang lebih efisien sekaligus memberikan nilai tambah bagi unit usaha dan masyarakat sekitar. (Dam)
