Netranews.co.id, Sumenep – Setiap pagi, Hoirunnas Nuriyadi memulai harinya dengan ritual sederhana: mengecek pesan dari para operator gerainya dan memastikan semua mesin EDC bekerja normal. Rutinitas itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang ia bangun sejak 2017, ketika bisnis “Anas Transfer” hanya berupa layanan transfer kecil-kecilan di ruang tamu rumahnya di Desa Paberasan, Sumenep.
Saat itu, warga desa harus menempuh perjalanan ke pusat kota hanya untuk mengirim uang atau melakukan pembayaran digital yang kini begitu mudah dilakukan. Melihat kebutuhan itulah, pria yang biasa disapa Anas ini memutuskan membuka layanan transaksi dengan menggandeng jaringan BRILink. Satu gerai kecil menjadi awal dari langkah yang jauh lebih besar.
“Di Paberasan belum ada layanan transfer. Banyak orang kesulitan. Dari situ saya yakin, kalau kita memulai dari kebutuhan masyarakat, usaha bisa berjalan,” kenangnya.
Keyakinan itu terbukti. Perlahan, satu per satu wilayah meminta layanan serupa. Gerai di Paberasan berkembang menjadi delapan outlet yang kini tersebar di Gapura, Baban, Parsanga, Pamolokan, Marengan, Kalianget Barat, hingga Batuan. Seiring berkembangnya jaringan, usaha Anas bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga ruang kerja baru bagi warga setempat.
Setiap outlet memperkerjakan tenaga lokal, yang setiap hari melayani transfer antarbank, pembayaran tagihan, hingga pembelian produk daring. Di beberapa desa, kehadiran outlet Anas Transfer bahkan menjadi alternatif utama bagi warga yang belum siap bertransaksi sendiri di mesin ATM atau kanal digital lain.
Bagi Anas, bisnisnya bukan sekadar usaha. Di balik delapan outlet itu, ia melihat harapan yang tumbuh di banyak tempat.
“Motivasi saya sederhana: memberi manfaat. Keuntungan penting, tapi bukan satu-satunya tujuan,” katanya.
Meski usahanya terus berkembang, Anas tak menutup mata terhadap tantangan. Bisnis transfer memiliki risiko yang tak ringan: potensi penipuan, kesalahan nominal, hingga masalah kejujuran karyawan. Untuk itu, ia menerapkan sistem pengawasan dan pelatihan berkala agar layanan tetap aman dan terpercaya.
“Tantangan terbesar itu menjaga kepercayaan. Bisnis ini sangat bergantung pada integritas,” ucapnya.
Kerja sama dengan BRILink disebutnya sebagai fondasi penting yang membuat bisnis ini bisa bertahan. Melalui jaringan tersebut, pelanggan dapat bertransaksi tanpa harus ke bank, mengantre di ATM, atau khawatir salah menekan tombol. Kemudahan inilah yang membuat banyak warga merasa lebih nyaman menggunakan layanan Anas Transfer.
Selain memperluas akses transaksi, keberadaan BRILink di desa-desa juga mendorong inklusi keuangan. Warga yang semula enggan menggunakan layanan digital kini mulai terbiasa. Hal ini tercermin dari laporan omzet dan jumlah transaksi yang diterimanya setiap bulan, yang terus menunjukkan peningkatan.
Meski sebagian besar pertumbuhan ia raih secara mandiri, Anas berharap dukungan lebih besar dari perbankan dan pemerintah daerah, mulai dari ketersediaan mesin EDC yang stabil hingga pendampingan untuk pelaku usaha kecil. Ia yakin, ekosistem yang kuat akan membantu layanan keuangan di desa bergerak lebih cepat.
Baginya, pembangunan ekonomi desa tidak hanya soal angka, tetapi tentang memberi ruang bagi banyak orang untuk tumbuh.
“Semua ini untuk kebermanfaatan bersama. Kalau usaha saya berkembang, saya ingin masyarakat juga ikut berkembang,” tuturnya.
Di balik gerai-gerai kecil yang tersebar di berbagai sudut Sumenep itu, tersimpan sebuah cerita sederhana: kepedulian terhadap kebutuhan orang lain bisa menjadi langkah awal yang mengubah hidup banyak orang. (Adv/dim)
