Netranews.co.id, Banyuwangi – Pengolahan pascapanen menjadi salah satu cara meningkatkan nilai jual kopi. Hal itu dilakukan Muqorrobin, warga Banyuwangi, yang mengolah kopi jenis ekselsa menjadi kopi whine melalui proses fermentasi. Rabu, 7 Oktober 2026.
Kopi whine dibuat dari buah kopi yang telah matang dan berwarna merah. Setelah dipilih dan dibersihkan, buah kopi tersebut kemudian difermentasi dalam wadah tertutup selama sekitar 20 hingga 30 hari.
“Pertama, pilih kopi yang sudah matang atau berwarna merah. Setelah dibersihkan, kemudian disimpan di wadah tertutup, seperti galon air, selama 20 sampai 30 hari,” kata Muqorrobin saat memilah buah kopi.
Menurut dia, kopi whine yang diolah dari jenis ekselsa memiliki karakteristik rasa dan aroma yang berbeda dibandingkan kopi robusta.
Buah kopi ekselsa yang telah matang memiliki lendir dengan sensasi manis. Karakter tersebut menjadi salah satu alasan Muqorrobin memilih ekselsa sebagai bahan baku kopi whine.
“Kalau ekselsa, ketika matang lendirnya memiliki sensasi manis. Ini yang membedakan dengan robusta yang lebih identik dengan rasa masam atau kecut,” ujarnya.

Proses fermentasi tersebut dinilai memberikan nilai tambah dibandingkan menjual kopi tanpa melalui pengolahan lebih lanjut.
Setelah diproses menjadi kopi whine dan digiling menjadi bubuk, produk tersebut disebut memiliki aroma yang lebih harum dan diminati penikmat kopi.
Harga jualnya pun meningkat. Bubuk kopi whine dari kopi ekselsa dapat mencapai Rp. 300.000 per kilogram.
Muqorrobin mengatakan, pengolahan kopi menjadi produk bernilai tambah menjadi pilihan untuk meningkatkan potensi ekonomi dari hasil perkebunan.
Selain berprofesi sebagai pengajar madrasah, Muqorrobin atau yang akrab disapa Cak Robin juga tercatat sebagai pengurus Lembaga Perekonomian Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi. (Rif/red)
