Netranews.co.id, Sumenep – Sektor pelayanan publik bidang kesehatan di Sumenep kini tidak baik-baik saja. Pasalnya fasilitas kesehatan yakni Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang berlangganan banjir tak kunjung diatasi. Jum’at, 11 April 2025.
Puskesmas Pragaan semestinya menjadi atensi pemerintah dalam mengoptimalkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang memeriksakan dirinya, namun hal itu seolah panggang jauh dari api.
Masalah banjir yang melanda layanan kesehatan tersebut sempat ramai di publik karena terkesan dibiarkan begitu saja sampai saat ini meski sudah diketahui penyebabnya.
Banjir yang masuk di kawasan Puskesmas tersebut setara dengan pinggang orang dewasa, bahkan dengan intensitas hujan tinggi air hujan menggenagi perinstirahatan pasien yang membutuhkan perawatan medis disana.
Hal ini sangat menghawatirkan, sebab tak hanya menggenagi hampir seluruh kawasan area Puskesmas pun juga berpotensi menganggu peralatan medis yang rentan air.
Dalam hal ini intervensi pemerinah daerah sangat dipertanyakan tertutama terkait menanggulangi persoalan banjir yang terjadi setiap tahun itu. Bukan hal yang tidak mungkin jika pemerintah segera bersikap.
Hal senada disampaikan salah seorang wakil rakyat yang berasal dari wilayah tersebut, bahwa urgensi pembenahan terhadap penyebab banjir semestinya menjadi prioritas guna keselamatan pasien yang dirawat.
“Tidak ada pilihan lain, kecuali segera melakukan pembenahan. Sebab puskesmas itu merupakan kebutuhan vital di tengah masyarakat.” ujar Anggota Komisi III DPRD Sumenep, Eksan (12/3).
Ia juga meminta pihak terkait segera melakukan langkah konkret untuk menanganu penyebab utama mengapa banjir bisa menerobos Puksemas Pragaan.
“Kami mendesak pihak terkait segera ambil langkah konkret. Kalau ini dibiarkan tentu masyarakat yang dirugikan.” tambahnya.
Disisi lain, saat terjadinya banjir pada (9/3) lalu mengenangi semua ruangan baik kantor maupun ruangan rawat inap pasien. Bahkan sebagian pasien juga dievakuasi ke tempat yang lebih aman agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.
Semestinya hal ini menjadi pukulan telak terhadap pemerintah sebab fasilitas kesehatan tersebut bukan dikelola oleh swasta melainkan plat merah.
Terpisah, Komisi IV DPRD Sumenep, Mulyadi mengaku bahwa persoalan banjir di Pragaan dirinya baru mendapat kabar dari kuli tinta. Ia juga menegaskan terkait persoalan Puskesmas komisinya membidangi di urusan kesehatan.
“Kami di komisi IV memang konterpat urusan kesehatan. Tetapi kita akan segera merapatkan al itu dengan teman-teman anggota lain di Komisi bulan ini.” kata Mulyadi. (10/4).
Soal lempar tanggung jawab, ia menegaskan jika penyebab utama banjir di Puskesmas Pragaan adalah saluran pembuangan air yang kurang memadai pihaknya akan bertanya langsung kepada Dinas PUTR selaku intasi yang membidangi.
“Kami akan libatkan PUTR untuk mengkaji sekaligus ingin tahu unuk perbaikan saluran itu apakah ranah daerah atau pemerintah Provinsi Jawa Timur.” ujarnya.
“Jika memang itu ranah Pemkab Sumenep maka kita akan merekomendasikan penyelesaian masalah itu pada Dinas disini.” imbuhnya
Selain itu, Mulyadi juga menyampaikan agar antara Dinas PUTR dan Dinkes PPKB bisa berkerjsama agar masalah banjir bisa segera diatasi lewat anggaran APBD Sumenep.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan, Ellya Fardasah saat dikondirmasi mengaku saat ini pihaknya tengah berkoodinasi dengan Dinas PUTR.
“Sudah berproses dengan PUTR, koordinasi.” singkatnya.
Kepala Dinas PUTR, Ery Susanto saat dihubungi belum memberikan tanggapan resmi soal ranah pengerjaan perbaikan saluran yang menjadi kendala utama banjir.
Sekadar diketahui, perbaikan saluran air yang menuju arah laut di Puskesmas Pragaan sangat sangat kecil sehingga air hujan yang menumpuk membanjiri seluruh area.
Banjir yang melanda Puskesmas ini dibenarkan langsung Kepala Puskesmas (Kapus) Baharuddin Mutheri bahwa banjir yang masuk di Puskesmas Pragaan lumayan tinggi sekitar 60 sentimeter.
“Tingginya sampai 50-60 sentimeter.” terangnya (12/3).
Ia menjelaskan, banjir masuk ke ruang-ruang yang cukup vital seperti ruangan inap pasien dan ruangan lain sehingga mengganggu proses pelayanan kesehatan disana.
“Banjir ini kiriman dari dataran tinggi karena intensitas hujan dan debit hujan juga tinggi. Banjir ini sudah langganan tiap tahun.” katanya.
Lebih lanjut, Baharuddin Mutheri memaparkan penyebab utama banjir susah diurai karena akses gorong-gorong yang menuju ke laut kecil.
“Gorong-gorongnya tidak memadai sehingga saat debit air hujan tinggi maka airnya balik dan merendam Puskesmas.” jelasnya.
Kendati demikian pihaknya telah berkirim surat pada DPRD dan Dinkes Sumenep agar cepat saluran air diperbaiki namun instasi terkait masih ambigu soal ranah pengerjaan dan hingga kini masih sekadar wacana upaya perbaikan. (Dim/red)
