Netranews.co.id, Sumenep – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep kini tengah melakukan riset mengenai Strategi Pengendalian Inflasi di Kabupaten Sumenep. Penelitian ini dilaksanakan bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember, dengan harapan dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang tepat dalam menjaga stabilitas harga di daerah. Senin, 29 September 2025.
Kepala BRIDA Sumenep, Benny Irawan, menjelaskan bahwa dalam lima tahun terakhir, laju inflasi di Sumenep menunjukkan pola yang fluktuatif. Pada periode 2022 hingga 2023, inflasi bahkan melonjak signifikan, bergerak pada kisaran 3,5 hingga 6,7 persen.
“Kondisi tersebut dipicu pemulihan ekonomi pascapandemi serta tekanan harga global, yang membuat beban masyarakat semakin berat,” kata Benny melalui keterangan tertulisnya.
Kendati demikian, menurutnya memasuki 2024 tren inflasi mulai menunjukkan perbaikan. Data mencatat, inflasi Sumenep turun dan stabil di kisaran 1,5 hingga 2,5 persen.
“Capaian ini menjadi indikasi bahwa kebijakan pengendalian harga seperti operasi pasar, distribusi pangan, dan koordinasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, serta Bulog mulai berjalan lebih efektif,” ungkapnya.
Namun, kata dia tantangan inflasi masih membayangi. Faktor geografis kepulauan menyebabkan biaya distribusi dan transportasi tinggi, sementara permintaan musiman pada hari besar keagamaan sering memicu lonjakan harga.
“Selain itu, kenaikan harga energi dan pangan global serta keterlambatan panen akibat cuaca buruk turut menjadi pemicu,” tandasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan hasil pertanian terutama beras, cabai, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi di Sumenep.
“Sedangkan sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga tercatat sebagai penahan inflasi,” sebutnya.
Melalui riset bersama LP2M Universitas Jember ini, BRIDA berharap dapat merumuskan strategi pengendalian inflasi yang lebih adaptif, sehingga harga tetap stabil dan daya beli masyarakat Sumenep terlindungi. (Dim/red)
