Netranews.co.id, Sumenep – Pelaksanaan Festival Kreatif Aransemen Musik Tong Tong Lagu Bupati Sumenep 2026 menuai sorotan dari salah satu peserta yang mengaku kecewa terhadap proses penilaian dalam ajang tersebut.
Festival tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Sumenep Calendar of Event 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) berkolaborasi dengan Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI) Kabupaten Sumenep.
Namun di tengah kemeriahan pertunjukan, salah satu peserta yang meminta identitasnya dirahasiakan menyampaikan keluhan terkait sistem penjurian yang dinilai belum berjalan secara terbuka.
Ia menilai festival yang seharusnya menjadi ruang ekspresi dan pengembangan musikalitas musik tong tong justru kehilangan semangat kreativitas yang selama ini menjadi ruh utama pertunjukan.
Menurutnya, terdapat kemunduran nilai kreativitas dalam festival tersebut karena penilaian dianggap belum mampu mengakomodasi perkembangan aransemen dan eksplorasi musikal para peserta.
“Yang kami rasakan ada kemunduran nilai kreativitas sebagai wadah musik tong tong,” ujar peserta tersebut kepada Netranews.co.id.
Ia juga menyoroti pelaksanaan festival perkusi yang menurutnya berlangsung kurang adil atau unfair, sehingga menimbulkan kekecewaan di kalangan peserta maupun penonton.
Menurut dia, persoalan itu berpusat pada minimnya transparansi penjurian, kriteria penilaian yang dianggap bias, hingga munculnya dugaan keputusan yang merugikan kelompok musik tertentu.
“Festival sebesar ini harusnya memberi ruang yang adil bagi semua peserta untuk dinilai secara terbuka,” katanya.
Ia menyayangkan ajang yang melibatkan banyak kelompok musik tong tong tersebut tidak disertai papan skor atau rekapitulasi nilai yang dapat diakses publik.
Menurutnya, penonton dan peserta berhak mengetahui dasar pertimbangan dewan juri dalam menentukan pemenang, bukan hanya menerima hasil akhir tanpa penjelasan yang rinci.
“Sangat disayangkan, ajang sebesar ini tidak memiliki papan skor atau rekapitulasi nilai yang terbuka untuk publik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyebut hasil penilaian seharusnya dapat menjadi bahan evaluasi bersama sekaligus bentuk akuntabilitas penyelenggara terhadap seluruh peserta.
Ia berpandangan festival musik tong tong mestinya berorientasi pada pengembangan musikalitas, keberanian eksplorasi aransemen, serta inovasi yang lahir dari karakter masing-masing kelompok.
“Minimal penilaian itu bisa dijadikan bahan evaluasi bagi kami para peserta dan menjadi indikator akuntabilitas penyelenggara,” ujarnya.
Ia menambahkan konsep seperti repetitif, alternatif, progresif, hingga flowing seharusnya menjadi bagian dari unsur penilaian yang dipertimbangkan secara objektif oleh dewan juri.
Peserta tersebut juga mengaku kekecewaan serupa bukan baru pertama kali dirasakan, melainkan hampir muncul dalam beberapa pelaksanaan festival tong tong sebelumnya.
Karena itu, ia berharap penyelenggara dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penjurian agar festival musik tong tong di Sumenep tetap menjadi ruang kompetisi yang sehat dan dipercaya publik.
“Kami harap penyelenggara bisa lebih transparan ke depannya,” tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait. Sementara Kepala Disbudporapar Sumenep sebagai pihak penyelenggara masih belum merespon saat dikonfirmasi. (Dim/red)
