Netranews.co.id, Banyuwangi – Tim dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya berkolaborasi dengan komunitas petani muda Kampung Kopi Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, untuk meningkatkan kualitas budidaya dan pengolahan kopi. Jumat, 6 November 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah praktisi dan narasumber yang memberikan edukasi mengenai perawatan tanaman, pengelolaan unsur hara tanah, pembuatan pupuk organik, hingga teknik penyajian kopi.
Pemilik Kedai Kopi Lego Gombengsari, Hariono, mengatakan perkembangan penikmat kopi di Banyuwangi terus meningkat. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan keterampilan para pelaku usaha kopi, khususnya dalam teknik penyeduhan.
Menurutnya, pelatihan barista penting dilakukan agar para pegiat kopi mampu menghasilkan cita rasa yang konsisten. Apalagi, komunitas kopi di Banyuwangi tidak hanya berasal dari Gombengsari, tetapi juga Papring dan Kelir.
“Perlu ada pelatihan mengenai barista untuk mendapatkan rasa yang konsisten. Pegiat kopi bukan hanya Gombengsari, tetapi ada Papring dan Kopi Mas dari Kelir,” ujar Hariono saat menyampaikan materi.
Dalam pelatihan tersebut, Hariono mempraktikkan teknik penyeduhan menggunakan metode V60. Takaran yang digunakan yakni 15 gram bubuk kopi dengan 225 mililiter air bersuhu 90-94 derajat Celsius.
Proses penyeduhan dilakukan melalui tiga tahap penuangan. Tahap pertama merupakan blooming, yakni penyiraman awal untuk mengeluarkan gas dari bubuk kopi. Selanjutnya, penuangan kedua dilakukan 30 detik setelah proses blooming, kemudian dilanjutkan penuangan ketiga dengan jeda waktu yang sama.
Hariono yang juga menjabat Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Banyuwangi itu menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah produk kopi lokal. Menurutnya, kopi jenis arabika fermentasi berpeluang memiliki nilai jual minimal 150.000 rupiah.
Sementara itu, Abdul Azis, pensiunan Direktorat Jenderal Balai Besar Pembenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan, Surabaya, Kementerian Pertanian RI, memberikan materi mengenai pemeliharaan kesuburan tanah dan pemanfaatan pupuk organik.
Ia menjelaskan, pupuk organik mengandung unsur hara penting seperti nitrogen, fosfat, dan kalium, serta mikroorganisme yang mendukung kesuburan tanah.

Menurut Abdul Azis, penggunaan pupuk kimia perlu memperhatikan waktu dan takaran. Penggunaan yang tidak tepat berisiko menyebabkan tanaman mengalami kekeringan akibat terganggunya penyerapan air.
Ia juga memaparkan cara pembuatan pupuk organik melalui proses fermentasi. Bahan organik yang berasal dari kotoran ternak umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan jika hanya mengandalkan sinar matahari.
Namun, melalui proses fermentasi tertutup atau kedap udara, bahan tersebut dapat diolah menjadi pupuk organik dalam waktu sekitar empat hari.
“Caranya dengan menutup hingga kedap udara, disertai pengecekan suhu setiap lima jam dan menjaga stabilitas suhu di bawah 50 derajat Celsius,” jelasnya.
Apabila suhu melebihi batas tersebut, bahan organik perlu dicacah kembali agar uap panas keluar. Proses kemudian dilanjutkan hingga suhu kembali berada di kisaran 30 derajat Celsius.
Melalui kolaborasi tersebut, komunitas petani muda Kampung Kopi Gombengsari diharapkan mampu meningkatkan keterampilan budidaya, pengolahan, dan pemasaran kopi sehingga produk kopi lokal Banyuwangi semakin berkualitas dan memiliki daya saing. (Rif/red)
