Netranews.co.id, Sumenep – PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Sumenep memberikan klarifikasi terkait keluhan warga Desa Moangan, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, mengenai pemadaman listrik berulang yang terjadi selama sebulan terakhir.
Manajer PLN ULP Sumenep, Achmad Suaidi, menyampaikan bahwa pemadaman tersebut merupakan bagian dari pekerjaan pemeliharaan dan penguatan jaringan distribusi listrik untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik di wilayah setempat.
“Pemadaman itu tidak hanya terjadi di Desa Moangan, tetapi juga di beberapa titik lain seperti Kacongan, Perumahan Satelit, dan Perumahan Saronggi,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, pusat pengerjaan proyek berada di Desa Tanjung sehingga aktivitas pekerjaan tidak terlihat langsung di sekitar Desa Moangan.
Menurut Achmad, pekerjaan tersebut dilakukan secara bertahap guna memperkuat sistem distribusi listrik agar pelayanan kepada pelanggan ke depan menjadi lebih stabil dan andal.
“Untuk pusat pengerjaannya itu di Desa Tanjung, makanya tidak terlihat ada proyek di sekitar Desa Moangan,” katanya.
PLN juga menegaskan bahwa penghentian sementara aliran listrik yang terjadi bukan disebabkan kekurangan daya maupun gangguan sistem kelistrikan.
Achmad menyebut pemadaman merupakan bagian dari pekerjaan terencana yang telah dikoordinasikan sebelumnya dengan pemerintah desa dan stakeholder terkait.
“Informasi mengenai jadwal pekerjaan dan estimasi waktu penormalan juga sudah kami sampaikan sebelumnya,” tegasnya.
Dalam proses pengerjaan tersebut, PLN mengaku telah melakukan berbagai langkah teknis untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan di lapangan.
Langkah itu meliputi inspeksi dan patroli jaringan, penguatan konstruksi, perbaikan titik-titik yang membutuhkan penanganan, hingga monitoring sistem secara intensif.
Achmad mengatakan seluruh upaya tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan listrik di Desa Moangan dan wilayah sekitar dapat beroperasi semakin aman dan stabil setelah pekerjaan selesai.
“Kami terus mempercepat penyelesaian pekerjaan di lapangan agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” ucapnya.
PLN juga mengakui adanya dampak yang dirasakan masyarakat selama proses peningkatan keandalan jaringan berlangsung.
Kendati demikian, pihaknya juga berupaya meminimalkan dampak pemadaman dengan mencari alternatif yang terukur selama pekerjaan berlangsung.
“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan mengharapkan dukungan serta pengertian masyarakat agar proses pekerjaan dapat berjalan lancar,” imbuh Achmad.
Ia menambahkan masyarakat dapat memanfaatkan aplikasi PLN Mobile maupun Contact Center PLN 123 untuk memperoleh informasi dan menyampaikan laporan terkait layanan kelistrikan.
Sebelumnya, warga Desa Moangan mengeluhkan pemadaman listrik yang disebut terjadi hampir dua hari sekali selama lebih dari sebulan terakhir.
Pemadaman tersebut biasanya berlangsung mulai pukul 08.30 WIB hingga 16.00 WIB sehingga mengganggu aktivitas masyarakat dan pelayanan publik di desa.
Tokoh pemuda Desa Moangan, Ferli Wahyudi, menilai kondisi itu berdampak luas terhadap berbagai aktivitas warga.
“Pelayanan di desa sangat terganggu. Anak sekolah, UMKM, sampai kantor desa semua kena imbasnya,” ujar Ferli.
Ia juga menyoroti proyek penyulang baru yang disebut menjadi alasan pemadaman berkepanjangan di wilayahnya.
Menurut Ferli, proses pengerjaan proyek tersebut terkesan lambat dan belum memiliki kejelasan target penyelesaian.
“Sudah sekitar 10 kali padam dalam sebulan ini. Kami merasa didiskriminasi soal pelayanan,” tegasnya.
Ferli mendesak PLN segera merampungkan pekerjaan agar keresahan masyarakat tidak terus berlanjut.
“PLN tidak boleh pilih kasih. Kami juga pelanggan yang bayar. Kalau telat bayar, sanksi kami sama: diputus,” tambahnya.
Warga juga berharap adanya transparansi dari PLN terkait jadwal pemadaman maupun progres pekerjaan yang sedang dilakukan di lapangan. (Dim/red)
