Netranews.co.id, Sumenep – Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menempatkan penanganan stunting sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, stunting tidak hanya berkaitan dengan persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa depan.
Menurut dia, persiapan generasi menuju Indonesia Emas 2045 harus dimulai sejak awal kehidupan, termasuk sejak masa kehamilan hingga anak melewati periode tumbuh kembang.
“Stunting bagi kami sesungguhnya menjadi konsen penting, karena ini merupakan bagian dari gambaran masa depan bagaimana anak-anak cerdas kita siapkan untuk generasi 2045,” kata Fauzi, Kamis (24/9/2026).
Fauzi menambahkan, pencegahan stunting membutuhkan pendampingan berkelanjutan terhadap ibu hamil, ibu menyusui, bayi, hingga balita.
Upaya tersebut melibatkan kader, tenaga kesehatan, penyuluh, serta Tim Pendamping Keluarga (TPK). Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam audiensi Pemkab Sumenep bersama BKKBN Jawa Timur terkait program Bangga Kencana, pelayanan keluarga berencana, dan percepatan penurunan stunting.
Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur Shodiqin mengatakan, penguatan program di Sumenep masih menghadapi keterbatasan tenaga Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB).
Dari 27 kecamatan di Sumenep, saat ini hanya tersedia sekitar 21 tenaga PKB/PLKB. Kondisi itu membuat satu penyuluh harus menangani sekitar 17 desa, sementara idealnya satu penyuluh membina sekitar dua desa.
BKKBN juga menyoroti realisasi anggaran program KB di Sumenep. Dari alokasi sekitar Rp 7 miliar, realisasi hingga audiensi berlangsung baru sekitar Rp 1,6 miliar atau 27 persen.
Shodiqin berharap pemerintah daerah dapat mengoptimalkan penggunaan anggaran tersebut untuk mendukung pelayanan KB dan percepatan penurunan stunting sesuai ketentuan yang berlaku. (Adv/dim/red)
