Netranews.co.id, Sumenep – Ribuan warga Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, menggelar doa bersama di Alun-Alun Arjasa untuk mencegah konflik horizontal akibat aktivitas survei seismik PT Kangean Energy Indonesia (KEI). Minggu, 2 November 2025.
Sekitar dua ribu warga hadir dengan pakaian serba putih sebagai simbol perdamaian, dengan khidmat berdoa di bawah terik matahari agar situasi di Pulau Kangean tetap damai, rukun dan dijauhkan dari adu domba.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Rayon Kangean sebagai bentuk keprihatinan atas potensi perpecahan sosial di wilayah mereka.
Ketua IKSASS Rayon Kangean, Mahmudi, mengatakan doa bersama ini adalah seruan moral untuk menjaga kerukunan warga yang dinilai dirusak agar terjadi pro kontra aktivitas PT KEI hingga memicu ketegangan di masyarakat.
“Fenomena yang kita hadapi sekarang sangat memprihatinkan. Kerukunan mulai rusak, hubungan santri dan kiai renggang, rakyat tak lagi menghormati pemimpinnya. Sumber kegaduhan itu datang dari kegiatan PT KEI di Kangean,” ujarnya.
Mahmudi meminta pemerintah daerah hingga pusat segera bertindak sebelum terjadi konflik sosial dan memulihkan suasana damai di Kangean seperti sedia kala.
“Kami mohon Bupati, Gubernur, dan Presiden turun tangan. Jangan tunggu konflik terjadi baru bertindak. Kembalikan kedamaian kami seperti dulu,” tegasnya.
Di sela-sela doa bersama, gema takbir dari warga yang menyerukan agar aktivitas survei seismik, eksplorasi, dan eksploitasi migas dihentikan sementara hingga ada jaminan keamanan sosial dan lingkungan, terus didengungkan sejak pagi.
Doa bersama diakhiri dengan pembacaan tahlil dan istighotsah. Warga memohon agar Pulau Kangean kembali tenteram dan terhindar dari perpecahan akibat kegiatan industri migas.
Sementara itu, Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Anggono Mahendrawan, menanggapi bahwa kegiatan survei seismik di Kangean telah melewati proses izin dan kajian lingkungan yang ketat.
“Sebelum kegiatan dimulai, semua izin diverifikasi, termasuk kajian lingkungan dan sosial. Kami pastikan semuanya sesuai ketentuan,” jelas Anggono, seperti dikutip dari Kompas.com.
Ia menegaskan penggunaan teknologi survei modern yang bersifat nirkabel dan ramah lingkungan. Metode ini disebut lebih aman bagi ekosistem laut dibanding cara lama.
“Dampak terhadap laut dapat ditekan seminimal mungkin. Kami juga terbuka berdialog dengan masyarakat agar tidak ada kesalahpahaman,” tambahnya.
Meski begitu, warga berharap pemerintah turun langsung untuk memediasi agar polemik antara masyarakat dan perusahaan tidak berkembang menjadi konflik horizontal. (Dim/red)
