Hari Peringatan Pembela Tanah Air (PETA) diperingati setiap 14 Februari. Tanggal tersebut merujuk pada pembentukan organisasi militer bentukan Jepang yang kelak memiliki arti penting dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Meski lahir dalam konteks Perang Dunia II dan kepentingan militer Jepang, PETA menjadi salah satu fondasi penting bagi lahirnya tentara nasional setelah proklamasi 17 Agustus 1945.
Secara resmi, PETA dibentuk pada 14 Februari 1943 oleh pemerintahan militer Jepang di Jawa. Pada masa itu, Jepang tengah terdesak oleh Sekutu dalam Perang Asia Pasifik. Untuk memperkuat pertahanan wilayah pendudukan, Jepang membutuhkan dukungan tenaga lokal. Melalui Osamu Seirei Nomor 44, pemerintah militer Jepang mengumumkan pembentukan pasukan sukarela yang diberi nama Tentara Sukarela Pembela Tanah Air atau dalam bahasa Jepang disebut Jawa Boei Giyugun. Di Sumatera, organisasi serupa dikenal dengan nama Giyugun.
Latar belakang pembentukan PETA tidak bisa dilepaskan dari situasi global saat itu. Setelah menduduki Hindia Belanda pada 1942, Jepang berupaya menarik simpati rakyat Indonesia dengan propaganda “Asia untuk Asia”. Jepang menjanjikan kemerdekaan di kemudian hari, sembari memanfaatkan sumber daya alam dan manusia untuk kepentingan perang. Dalam konteks itulah PETA dibentuk: sebagai alat pertahanan lokal yang diharapkan mampu membantu Jepang menghadapi serangan Sekutu.
Meski dibentuk oleh Jepang, keanggotaan PETA diisi oleh para pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang. Banyak di antara mereka yang sebelumnya aktif dalam organisasi pergerakan nasional. Pelatihan militer diberikan secara intensif, mencakup taktik perang, kedisiplinan, penggunaan senjata, hingga strategi pertahanan wilayah. Struktur komando PETA pun melibatkan perwira-perwira Indonesia, meskipun tetap berada di bawah pengawasan ketat militer Jepang.
Salah satu tokoh yang pernah terlibat dalam PETA adalah Sudirman, yang kelak menjadi Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia. Pengalaman militernya di PETA menjadi bekal penting ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Selain Sudirman, sejumlah tokoh lain yang kemudian berperan dalam pembentukan tentara nasional juga berasal dari PETA, seperti Soeharto. Fakta ini menunjukkan bahwa PETA bukan sekadar alat kolonial Jepang, melainkan juga ruang pembelajaran militer bagi calon pemimpin pertahanan Indonesia.
Namun, sejarah PETA tidak hanya berisi kisah pelatihan dan pembentukan struktur militer. Di dalam tubuh PETA juga tumbuh kesadaran nasional yang semakin kuat. Para anggota mulai menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan dan organisasi yang dapat digunakan untuk kepentingan bangsa sendiri, bukan semata-mata untuk Jepang. Kesadaran ini mencapai puncaknya dalam peristiwa Pemberontakan PETA di Blitar pada 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Supriyadi.
Pemberontakan tersebut dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap tindakan sewenang-wenang tentara Jepang serta penderitaan rakyat akibat kerja paksa dan eksploitasi. Meski pemberontakan itu akhirnya dapat dipadamkan Jepang, peristiwa tersebut menjadi simbol bahwa semangat nasionalisme di kalangan anggota PETA tidak bisa lagi dibendung. Supriyadi sendiri kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional atas jasanya dalam melawan penjajahan.
Menjelang kekalahan Jepang pada pertengahan 1945, situasi politik dan militer berubah drastis. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, kekosongan kekuasaan terjadi di berbagai wilayah. Para bekas anggota PETA bersama unsur pemuda dan laskar rakyat bergerak cepat mengamankan senjata serta mengambil alih instalasi penting. Pada 22 Agustus 1945, dibentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Banyak mantan anggota PETA yang kemudian bergabung dan memainkan peran strategis dalam mempertahankan kemerdekaan.
Dari sisi struktur, PETA memiliki sistem komando teritorial yang terbagi dalam batalion-batalion di berbagai daerah. Di Jawa saja, terdapat puluhan batalion yang tersebar. Setiap batalion dipimpin oleh seorang daidanco (komandan batalion), di bawahnya terdapat chudanco (komandan kompi) dan shodanco (komandan peleton). Struktur ini memudahkan koordinasi dan pembinaan kader militer di berbagai wilayah. Setelah kemerdekaan, pengalaman organisasi tersebut mempermudah integrasi pasukan ke dalam sistem pertahanan nasional.
Hari Peringatan PETA pada 14 Februari bukan sekadar mengenang tanggal berdirinya sebuah organisasi militer. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi momentum untuk merefleksikan proses panjang pembentukan kekuatan pertahanan bangsa. PETA adalah contoh bagaimana sebuah organisasi yang lahir dari kepentingan penjajah dapat bertransformasi menjadi wadah pembelajaran dan konsolidasi nasional.
Dalam perspektif sejarah, PETA sering diperdebatkan. Ada pandangan yang menilai bahwa PETA adalah alat Jepang untuk mempertahankan kekuasaannya. Namun ada pula yang melihatnya sebagai tahap penting dalam proses militerisasi bangsa Indonesia secara modern. Kedua pandangan tersebut memiliki dasar masing-masing. Secara faktual, PETA memang dibentuk oleh Jepang. Namun secara sosiologis dan politis, PETA turut membentuk kader-kader militer yang kelak memperjuangkan kemerdekaan.
Peran PETA juga memperlihatkan dinamika strategi perjuangan bangsa Indonesia. Tidak semua bentuk perlawanan dilakukan secara terbuka. Dalam beberapa situasi, bekerja dari dalam sistem yang ada justru menjadi cara untuk mempersiapkan kekuatan jangka panjang. Banyak anggota PETA yang memanfaatkan kesempatan pelatihan militer untuk mempersiapkan diri menghadapi momentum kemerdekaan.
Kini, lebih dari delapan dekade sejak pembentukannya, PETA tetap menjadi bagian penting dalam narasi sejarah nasional. Setiap 14 Februari, peringatan Hari PETA mengingatkan generasi muda bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lahir secara instan. Ia merupakan hasil dari proses panjang, termasuk pembentukan kapasitas militer melalui organisasi seperti PETA.
Di tengah tantangan pertahanan modern, nilai-nilai yang diwariskan PETA seperti disiplin, keberanian, dan semangat pengabdian tetap relevan. Sejarah PETA menunjukkan bahwa kekuatan pertahanan nasional tidak hanya dibangun dari senjata, tetapi juga dari kesadaran kolektif untuk membela tanah air. Peringatan ini sekaligus menjadi penghormatan kepada para anggota PETA yang, dalam berbagai keterbatasan situasi pendudukan, tetap menyalakan api nasionalisme yang kemudian menyala terang saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Artikel ini disempurnakan AI
