Jangan hanya mengejar proyek selesai
Marlaf berharap pembangunan infrastruktur di Sumenep tidak lagi menggunakan ukuran keberhasilan sebatas proyek selesai dikerjakan.
Menurut dia, kualitas dan daya tahan infrastruktur harus menjadi indikator utama karena pembangunan menggunakan anggaran daerah yang berasal dari uang masyarakat.
“Kita sudah 81 tahun merdeka. Jangan sampai kualitas jalan yang dibangun hari ini kalah dengan jalan atau bangunan peninggalan Belanda yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun tetapi masih bertahan,” ujarnya.
Karena itu, dia mengajak masyarakat turut melakukan pengawasan terhadap proyek jalan tersebut.
“Ini proyek kita bersama. Pemerintah punya kewajiban membangun, kontraktor punya kewajiban mengerjakan sesuai kontrak, pengawas punya kewajiban mengawasi, dan masyarakat punya hak mengontrol,” katanya.
Marlaf berharap proyek senilai lebih dari Rp 16 miliar tersebut benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan tidak kembali menjadi persoalan yang harus ditangani melalui anggaran daerah.
“Mari kawal bersama. Jangan sampai Rp 16 miliar lebih hanya menghasilkan jalan yang sebentar lagi kembali ‘nabuy ataltalan’. Kalau proyek ini dikerjakan ugal-ugalan, pertanyaannya sederhana: yang sebenarnya menjajah kita itu Belanda atau kita sendiri?” pungkasnya. (Dim/red)
