Netranews.co.id, Sumenep – Asta Tinggi, sebuah kompleks makam raja-raja Sumenep yang terletak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, bukan sekadar situs sejarah atau tempat ziarah biasa. Ia merupakan simbol peradaban Islam dan budaya lokal Madura yang masih hidup hingga kini. Setiap tahun, ribuan peziarah dari berbagai daerah datang untuk berziarah, berdoa, dan merasakan atmosfer spiritual yang kental. Namun, di balik aktivitas keagamaan itu, tersimpan potensi ekonomi yang besar bila dikelola dengan pendekatan ekonomi Islam.
Pembangunan ekonomi bukan hanya soal pembangunan infrastruktur atau peningkatan angka pertumbuhan, melainkan juga proses menumbuhkembangkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Dalam konteks Islam, pembangunan ekonomi harus berpijak pada nilai keadilan, keberkahan, dan kemaslahatan bersama. Ekonomi Islam menolak sistem yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Sebaliknya, ia mendorong distribusi hasil ekonomi yang adil, mengedepankan etika, serta menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam roda perekonomian.
Secara makro, sistem ekonomi Islam bertumpu pada tiga prinsip utama: tauhid, keadilan (‘Adl), dan kemaslahatan (Maslahah). Prinsip tauhid menegaskan bahwa seluruh aktivitas ekonomi harus diarahkan untuk kemaslahatan umat sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Keadilan menuntut distribusi kekayaan yang merata serta menolak praktik riba, gharar (ketidakjelasan), dan eksploitasi. Sementara prinsip kemaslahatan mengarahkan aktivitas ekonomi agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Dari perspektif ini, pengembangan wisata religi Asta Tinggi dapat diarahkan sebagai motor pembangunan ekonomi berbasis syariah. Aktivitas ekonomi di kawasan wisata tersebut, mulai dari parkir, warung makan, hingga penjualan suvenir, dapat dikelola melalui koperasi syariah. Dengan begitu, keuntungan tidak hanya dinikmati oleh segelintir pelaku usaha, tetapi juga dibagikan secara adil kepada anggota masyarakat. Selain itu, dana infaq, sedekah, dan wakaf produktif dapat dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas publik seperti tempat istirahat yang nyaman, ruang edukasi sejarah Islam lokal, serta sarana kebersihan yang memadai.
Pada akhirnya, pengembangan wisata religi Asta Tinggi dengan prinsip ekonomi Islam bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan sebuah gerakan kultural dan spiritual. Asta Tinggi dapat menjadi contoh nyata bagaimana ajaran Islam dapat diterapkan dalam sistem ekonomi modern yang adil dan berkelanjutan. Dari ruang ziarah inilah, semangat ekonomi Islam bisa tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Menurut penulis, berbicara tentang pembangunan ekonomi Islam bukan sekadar soal naiknya pendapatan atau pertumbuhan angka ekonomi, tapi lebih pada bagaimana nilai-nilai Islam benar-benar hidup di tengah masyarakat. Ekonomi Islam itu harus membawa keberkahan, keadilan, dan kesejahteraan bersama, bukan hanya keuntungan bagi segelintir orang. Prinsip inilah yang semestinya menjadi arah pembangunan ekonomi di daerah, termasuk di Kabupaten Sumenep yang dikenal punya kekayaan budaya dan religi.
Sebagai mahasiswa, penulis berpikir bahwa membangun ekonomi Islam di Sumenep tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur fisik. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran sosial dan moral masyarakat. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, dan saling tolong-menolong harus jadi dasar dalam setiap kegiatan ekonomi. Kalau prinsip itu diterapkan, maka ekonomi di sekitar Asta Tinggi bukan hanya menguntungkan, tapi juga membawa keberkahan bagi semua pihak.
Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, wisata religi yang dikelola dengan prinsip ekonomi Islam juga bisa memperkuat identitas Sumenep sebagai daerah religius dan berbudaya. Asta Tinggi bisa jadi simbol keseimbangan antara spiritualitas dan pembangunan ekonomi.
Karena itu, kolaborasi menjadi kunci dimana pemerintah daerah dapat berperan sebagai fasilitator kebijakan dan infrastruktur; akademisi berperan dalam memberikan riset, konsep, dan pendampingan; sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama yang menjaga kejujuran dan semangat gotong royong dalam praktik ekonomi. Sinergi ini akan memperkuat posisi Asta Tinggi sebagai destinasi wisata religi yang tidak hanya bernilai spiritual dan budaya, tetapi juga sebagai pilar ekonomi Islam di tingkat lokal.
Penulis: Alfi Kamila Nur Ramadhani (Mahasiswa Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Wiraraja Madura)
Disclaimer: Penulisan opini diatas tidak merepresentasikan redaksi melainkan tanggungjawab sepenuhnya penulis.
