Netranews.co.id, Sumenep – Ratusan nelayan Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, menggelar aksi demonstrasi di laut menolak rencana eksplorasi dan penambangan minyak dan gas (migas) di wilayah perairan mereka. Rabu, 12 November 2025.
Aksi yang dipusatkan di perairan Takat Noko, dekat Desa Angkatan dan Desa Kalisangka, itu menjadi bentuk perlawanan keempat kalinya terhadap aktivitas survei seismik di kawasan Kangean Barat.
Koordinator aksi, Ahmad Yani, menyebut demonstrasi laut kali ini merupakan bentuk kekecewaan dan keresahan warga pesisir terhadap ancaman kerusakan lingkungan akibat proyek migas yang dinilai berpotensi mengganggu ekosistem laut dan ruang hidup nelayan.
“Kami sudah berkali-kali menolak, tapi aktivitas survei dan rencana tambang migas terus berjalan. Padahal kami hidup dari laut ini.” ujar Yani melalui keterangan tertulis Rabu siang.
Menurutnya, masyarakat Kangean khawatir aktivitas eksplorasi migas akan merusak biota laut, mempengaruhi hasil tangkapan ikan, dan mengganggu keseimbangan ekologi laut dangkal di sekitar pulau kecil tersebut.
Tujuh Tuntutan Nelayan
Dalam aksi yang dikawal aparat keamanan laut itu, nelayan menyampaikan tujuh tuntutan utama, di antaranya:
- Menghentikan seluruh rencana tambang migas di laut dan darat Kepulauan Kangean.
- Melindungi lingkungan dan hak masyarakat setempat sebagaimana dijamin dalam UU No. 32 Tahun 2019.
- Mendesak Syahbandar Kangean tidak memberi izin kapal survei seismik berlabuh di perairan Kangean.
- Menuntut tanggung jawab perusahaan atas keresahan sosial yang timbul di tengah masyarakat.
- Meminta Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudi menghentikan keberadaan kapal survei seismik 3D di kawasan tersebut.
- Mendorong Menteri Kelautan dan Perikanan mengaudit PT Kangean Energy Indonesia (KEI) terkait rencana eksplorasi migas di pulau kecil itu.
- Menuntut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memerintahkan penghentian seluruh aktivitas eksplorasi migas di perairan dangkal Kangean.
Usai aksi berlangsung, nelayan dan nahkoda kapal survei dikabarkan mencapai kesepakatan sementara. Berdasarkan hasil diskusi, kapal seismik dijadwalkan keluar dari perairan Kangean pada pukul 15.00 WIB, Rabu sore.
Meski begitu, para nelayan masih bersiaga di pesisir sembari menunggu kepastian kapal benar-benar meninggalkan lokasi.
“Kalau kapal tidak bergerak sampai waktu yang disepakati, kami akan mendatangi lagi.” ujar Yani menegaskan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Kangean Energy Indonesia (KEI) belum memberikan tanggapan resmi terkait aksi protes tersebut maupun tuntutan para nelayan.
Sebelumnya, aktivitas survei seismik di perairan Kangean memang telah menuai polemik. Sejumlah warga dan kelompok nelayan menilai kegiatan tersebut mengancam keberlanjutan sumber daya laut, sementara perusahaan disebut tengah menjalankan tahapan eksplorasi untuk pengembangan energi nasional. (Dim/red)
