Netranews.co.id, Sumenep – Proyek perbaikan jalan yang menghubungkan kawasan Lenteng-Mandala hingga jalur menuju Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, diminta diawasi secara ketat.
Pasalnya, proyek yang menelan anggaran lebih dari Rp 16 miliar tersebut diharapkan tidak hanya mengejar penyelesaian pekerjaan, tetapi juga menghasilkan infrastruktur yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Advokat asal Sumenep, Marlaf Sucipto, mengatakan masyarakat perlu ikut mengawasi pelaksanaan proyek tersebut sejak tahap pengerjaan hingga selesai.
Menurut dia, besarnya anggaran yang dialokasikan harus sejalan dengan kualitas jalan yang dibangun.
“Ini bukan proyek kecil. Anggarannya lebih dari Rp 16 miliar. Karena uang yang digunakan adalah uang rakyat, maka jangan sampai proyek ini hanya bagus di atas kertas, tetapi kualitasnya buruk di lapangan,” kata Marlaf, Rabu (26/8/2026).
Marlaf mengaku mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap akses jalan yang selama ini menjadi jalur penting bagi masyarakat di wilayah Lenteng Timur, Ellak-Laok, Ellak-Daya, Lenteng Barat hingga Mandala.
Namun, dia mengingatkan agar apresiasi tersebut tidak membuat masyarakat berhenti melakukan pengawasan.
Berdasarkan data yang disebutnya diakses melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Sumenep, pekerjaan tersebut mencakup perbaikan badan jalan, pelebaran sekitar 3 hingga 3,5 meter, serta pembangunan atau perbaikan drainase.
Marlaf menilai persoalan drainase perlu mendapat perhatian khusus. Menurut dia, kerusakan jalan yang terjadi sebelumnya tidak hanya berkaitan dengan kondisi badan jalan, tetapi juga sistem pengelolaan air.
“Jalan sebagus apa pun akan cepat rusak kalau air tidak dikelola dengan benar. Jangan membangun drainase hanya untuk memenuhi item pekerjaan. Drainase harus berfungsi,” ujarnya.
Dia berkaca pada kondisi jalan di kawasan tersebut yang sebelumnya beberapa kali diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat.
Bahkan, BarokahNet, jaringan WiFi milik warga asal Ellak-Daya, disebut pernah menggelontorkan sekitar Rp 80 juta untuk membantu perbaikan jalan pada tahap kedua.
Namun, perbaikan tersebut kembali mengalami kerusakan sehingga jalan berlubang dan mengganggu aktivitas warga.
Menurut Marlaf, kondisi tersebut menjadi pelajaran bahwa perbaikan jalan tidak cukup hanya dengan menutup bagian yang rusak.
“Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar bagaimana menambal jalan. Kalau akar masalahnya tidak dibenahi, terutama soal drainase dan kualitas konstruksi, jalan akan kembali rusak,” katanya.
Dia berharap proyek yang saat ini dikerjakan tidak mengulang pola lama, yakni jalan diperbaiki kemudian kembali rusak dan membutuhkan anggaran baru.
“Kalau siklusnya seperti itu terus, kapan infrastrukturnya maju? APBD akhirnya hanya habis untuk memperbaiki kerusakan yang seharusnya bisa dicegah sejak awal,” kata dia.
