Netranews.co.id, Banyuwangi – Politeknik Negeri Banyuwangi menggelar pelatihan pengolahan pascapanen kopi dengan metode Carbonic Maceration (CM) di Kampung Kopi Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Pelatihan ini memperkenalkan teknik fermentasi kopi menggunakan karbon dioksida untuk menghasilkan cita rasa kopi yang khas. Metode tersebut dinilai memiliki waktu fermentasi relatif singkat dibandingkan sejumlah teknik lain.
Pemateri pelatihan, Halil yang merupakan pengajar Agribisnis Politeknik Negeri Banyuwangi, menjelaskan bahwa metode Carbonic Maceration membutuhkan waktu fermentasi sekitar 48 hingga 72 jam.
Menurut dia, penggunaan karbon dioksida dalam proses fermentasi memungkinkan gas tersebut dimanfaatkan berulang kali selama persediaannya masih mencukupi dan prosesnya terjaga.
“Karbon dioksida satu liter dapat digunakan sampai 30 hari, dengan rate satu detik satu gelembung. Dengan demikian, gas tersebut dapat digunakan untuk fermentasi kopi berkali-kali, dengan masa fermentasi cukup 48 sampai 72 jam,” ujarnya.
Halil menambahkan, metode CM memiliki prinsip yang dapat mengadaptasi kondisi fermentasi dalam lambung luwak, sebagaimana proses yang terjadi pada pengolahan kopi luwak.
Ia menyebutkan, suhu 25-28 derajat Celsius menjadi salah satu parameter yang diperhatikan dalam proses tersebut. Sementara itu, tingkat keasaman atau pH yang disampaikan dalam pelatihan berada pada angka 7.
“Suhu terbaik 25 sampai 28 derajat, suhu yang sama dengan lambung luwak, pH terbaik 7,” terangnya saat menyampaikan materi.
Sementara itu, pemilik Kopi Lego Gombengsari, Hariyanto, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan agar pengetahuan dan keterampilan petani maupun pelaku usaha kopi semakin berkembang.
“Kami bahagia, senang, kami berharap kegiatan berlanjut,” kata Hariyanto, yang juga merupakan anggota Lembaga Perekonomian Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Banyuwangi.
Hariyanto menilai, meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi turut membuka peluang usaha bagi pelaku industri kopi lokal. Menurut dia, harga kopi di pasaran cukup kompetitif, bergantung pada kualitas dan proses pengolahannya.
Ia menyebutkan, harga kopi yang belum digiling atau masih berbentuk biji dapat mencapai Rp65.000 per kilogram untuk kualitas tertentu. Sementara itu, kopi dengan kualitas terbaik disebut bisa dijual dengan harga Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram.
“Tren kopi selalu meningkat. Per hari ini (10 Oktober 2026), paling rendah Rp65.000, sedangkan yang terbaik mencapai Rp80.000 sampai Rp100.000,” tuturnya.
Pelatihan tersebut diharapkan dapat memperluas pengetahuan pelaku usaha kopi di Gombengsari mengenai teknik fermentasi pascapanen, sekaligus mendorong peningkatan kualitas produk dan daya saing kopi lokal Banyuwangi. (Rif/red)
