Netranews.co.id, Sumenep – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur, jadikan hasil riset transformasi Community Based Tourism (CBT) sebagai basis inovasi untuk kembangkan pariwisata di desa-desa. Rabu, 5 Maret 2025.
Riset itu dilakukan melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Sumenep dengan menggandeng akademisi dari seluruh Perguruan Tinggi (PT) di daerah setempat.
Kepala BRIDA Sumenep, Benny Irawan mengatakan, CBT itu pariwisata yang berbasis kepada kelompok-kelompok masyarakat dengan memanfaatkan digitalisasi untuk pembangunan pariwisata pedesaan.
“Di tahun 2024 kami sudah mengkaji mengenai CBT ini, hasil kajian dan riset itu kemudian berbentuk rekomendasi yang nantinya juga akan dipelajari oleh Dinas teknis,” kata Benny saat diwawancarai di ruangannya, pada Rabu (05/03).
Berdasarkan hasil risetnya, ia menjelaskan bahwa perlu adanya Badan Promosi Pariwisata Daerah yang bekerja sama dengan seluruh stakeholder guna mempromosikan destinasi melalui segala sektor.
“Juga harus ada pelatihan bagi pelaku pariwisata untuk meningkatkan keterampilan dalam penggunaan teknologi dan manajemen media sosial untuk promosi, serta harus ada Wi-Fi publik yang mempercepat digitalisasi,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Moh Iksan menyatakan bahwa saat ini pihaknya masih perlu untuk mempelajari rekomendasi dari hasil riset BRIDA di sektor pariwisata itu.
Sebab, kata dia, membangun pariwisata itu perlu memperhatikan berbagai aspek, seperti lahan, kelompok masyarakat dan pemerintah Desa.
“Kalau sudah saya baca dan pelajari semuanya, baru nanti bisa mengakomodir terhadap pengembangan wisata. Karena wisata itu berkaitan dengan lahan. Kalau misalnya lahannya di desa, itu bisa dikelola Pemerintah Desa,” ungkapnya.
Adapun hasil riset dan kajian tentang Transformasi Coommunity Based Tourism: Digitalisasi dan Keberlanjutan Pembangunan Pariwisata Pedesaan, BRIDA memberikan sejumlah rekomendasi sebagai berikut :
- Pendirian Badan Promosi Pariwisata Daerah
Pemerintah Kabupaten Sumenep perlu mendirikan Badan Promosi Pariwisata Daerah untuk pembangunan pariwisata pedesaan di Kabupaten Sumenep. Sebab diperlukan badan yang fokus pada promosi destinasi wisata, bekerja sama dengan pihak swasta, dan komunitas lokal, untuk meningkatkan promosi pariwisata pedesaan.
Badan ini sebagai tim khusus yang menggencarkan promosi pariwisata. Tim dapat melibatkan representative pemerintah, akademisi, media, pelaku usaha dan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Sumenep juga perlu memberikan dukungan pelatihan dan edukasi digital. Pemkab bisa bekerja sama dengan lembaga pelatihan untuk mengadakan program edukasi dan literasi digital, khususnya bagi pelaku pariwisata. Program ini penting untuk meningkatkan keterampilan dalam penggunaan teknologi dan manajemen media sosial. Selain itu, Pemkab pelu meningkatkan akses internet di kawasan pedesaan untuk mendukung pengelolaan pariwisata berbasis digital. Di lokasi-lokasi wisata, infrastruktur seperti jaringan Wi-Fi publik dapat mempercepat proses digitalisasi.Â
- Pemerintah Desa atau BUMDes
Pemerintah Desa atau BUMDes perlu aktif memberikan pelatihan terkait manajemen destinasi wisata berbasis digital kepada pengelola destinasi wisata. Pelatihan ini bisa mencakup tentang strategi pemasaran digital, pengelolaan system informasi wisata, hingga penggunaan platform seperti Google My Business (GMB). Ke depan pemerintah desa juga perlu membangun sistem informasi wisata berbasis web dan aplikasi yang terintegrasi dengan platform lain seperti media sosial, GMB, dan sebagainya, guna memudahkan wisatawan dalam mengakses informasi dan melakukan reservasi. Selain itu, pemerintah desa perlu melibatkan generasi muda dalam pengelolaan digitalisasi pariwisata pedesaan. Sebab, generasi muda bisa menjadi ujung tombak dalam pembuatan konten kreatif dan promosi melalui media sosial seperti Instagram, Tik-Tok, FB, dan platform digital lainnya.
- Pengelola Destinasi Wisata
Pengelola destinasi wisata di Kebupaten Sumenep sangat penting meningkatkan kemampuan pemasaran digital. Pengelola destinasi wisata perlu mengembangkan keterampilan dalam mengelola media sosial dan memproduksi konten promosi yang menarik. Pengelola destinasi, dalam hal ini juga sebaiknya berkolaborasi dengan influencer lokal untuk mempromosikan dan meningkatkan visibilitas destinasi di kalangan wisatawan. Selain itu, dibandingkan konten promosi umum, konten yang memiliki narasi kuat lebih mudah menarik minat wisatawan. Karena itu, sebaiknya pengelola destinasi menggali lebih dalam cerita budaya, sejarah, atau keunikan lokal untuk dijadikan konten promosi.
- Pihak Swasta
Pihak swasta dapat terlibat dalam program kemitraan dengan pemerintah dan pengelola destinasi wisata pedesaan untuk mendukung kegiatan promosi, pengembangan ekowisata, dan penyediaan fasilitas teknologi. Pihak swasta diharapkan berinvestasi dalam pembangunan fasilitas pendukung seperti pusat informasi digital, spot Wi-Fi, dan perangkat digital untuk memudahkan wisatawan.
- Masyarakat Lokal
Masyarakat diharapkan berperan aktif dalam pembangunan digitalisasi pariwisata pedesaan di Kabupaten Sumenep. Masyarakat sekitar kawasan wisata dalam berperan aktif sebagai pemandu wisata, pengrajin lokal, atau penyedia layanan lainnya. Masyarakat bisa mengembangkan produk khas setempat seperti kuliner, dan kerajinan tangan.
Kemudian, produk ini bisa dipromosikan secara online sebagai bagian dari daya tarik destinasi wisata. Dengan keterlibatan seperti itu, masyarakat setempat akan memperoleh manfaat ekonomi secara langsung dari pembangunan pariwisata pedesaan di Kabupaten Sumenep.
(Dim/red)
