Netranews.co.id, Sumenep – Bulan Zulhijah sudah di pelupuk mata. Di banyak sudut kampung, panitia kurban mulai menyusun strategi pelaksanaan, sementara sebagian warga mulai menghitung ulang tabungan mereka, cukupkah untuk membeli satu ekor kambing tahun ini?
Kita tidak bisa menutup mata bahwa tahun ini masyarakat sedang diuji secara ekonomi. Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja makin sempit, dan daya beli masyarakat melemah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025 menunjukkan angka kemiskinan nasional masih berada di 9,3 persen. Di Madura sendiri, berdasarkan data BPS Jawa Timur, kabupaten seperti Sumenep dan Sampang masih masuk kategori daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di provinsi ini.
Di sisi lain, harga hewan kurban terus merangkak naik. Di pasar hewan Pragaan, misalnya, kambing jenis Jawa Randu yang tahun lalu bisa ditebus Rp2,5 juta, kini ditawarkan mulai Rp3 juta hingga Rp3,5 juta. Kenaikan ini tentu menjadi beban tersendiri bagi masyarakat kecil yang ingin berkurban.
Muncullah dilema ingin berkurban, tapi kebutuhan pokok tak bisa ditawar. Banyak yang akhirnya memilih mundur, absen dari kurban tahun ini. Padahal, nilai kurban bukan hanya terletak pada jumlah atau harga hewan, tetapi pada niat dan dampak sosialnya.
Di tengah kegelisahan itu, BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) hadir sebagai solusi. Melalui program “Kurban Berkah”, BAZNAS menawarkan skema kurban kolektif dengan harga yang lebih terjangkau dan proses yang transparan. Yang lebih menarik, hewan kurban diambil dari peternak lokal, dan dagingnya disalurkan ke daerah-daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) termasuk sejumlah desa di Pulau Kangean yang nyaris tak pernah mencicipi daging kurban.
Tahun 2024 lalu, BAZNAS mencatat distribusi lebih dari 30 ribu hewan kurban ke berbagai pelosok Indonesia. Di Madura sendiri, beberapa desa di Sumenep bagian timur dan Pamekasan telah menjadi sasaran distribusi. Ini bukan sekadar kurban, ini adalah gerakan solidaritas umat.
Maka dari itu, saya mengajak masyarakat Madura untuk tidak ragu menunaikan kurban melalui jalur kolektif yang terorganisir seperti BAZNAS. Ini bukan soal besar kecilnya hewan yang dikurbankan, tapi sebesar apa niat dan kepedulian kita terhadap sesama.
Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih, tapi tentang menyatukan hati yang peduli dan tangan yang memberi.
Oleh: Moh.Tohari (Pimpinan Umum LPM Esensi STITA Sumenep dan penerima manfaat beasiswa BAZNAS Kabupaten Sumenep)
