Netranews.co.id, Sumenep – Kasus campak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengalami lonjakan signifikan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep, tercatat 1.000 kasus campak terjadi sejak Januari hingga Juli 2025. Kamis, 14 Agustus 2025.
Mayoritas penderita merupakan anak usia dini. Dinkes mencatat, 52 persen dari total kasus menyerang balita berusia 1 hingga 5 tahun. Jenis campak yang ditemukan adalah campak morbili (measles), jenis yang umum terjadi dan dapat menular dengan cepat melalui droplet atau percikan cairan dari mulut dan hidung.
“Sebagian besar penderita ini memang sudah pernah mendapatkan vaksin, namun tetap bisa terinfeksi jika imunitasnya menurun atau belum lengkap dosisnya,” ujar Kepala Dinkes P2KB Sumenep, Ellya Fardasah, dalam keterangannya.
Guna menekan penyebaran penyakit, Pemkab Sumenep kini tengah mengintensifkan program imunisasi kejar, menyasar anak-anak yang belum menerima vaksinasi campak sesuai jadwal. Program ini menyasar kelompok rentan yang belum lengkap imunisasinya, agar kekebalan kelompok (herd immunity) bisa segera terbentuk.
Ellya mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala awal campak, seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam kemerahan di kulit.
“Karena penularannya melalui droplet, jika anak menunjukkan gejala campak, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan cepat sangat penting untuk mencegah penularan yang lebih luas,” ujarnya.
Sebagai langkah preventif, Pemkab Sumenep juga memperkuat pelayanan kesehatan dasar dengan memastikan ketersediaan imunisasi campak lengkap di seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Dinkes mengingatkan, pencegahan campak tidak hanya bergantung pada vaksinasi, tetapi juga perlu dibarengi dengan menjaga kebersihan lingkungan, kebiasaan hidup sehat, serta rutin memeriksakan anak ke layanan kesehatan saat muncul gejala demam atau ruam kulit. (Dam)
