Netranews.co.id, Sumenep – Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui jaringan puskesmas terus menjalankan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada 2025 sebagai upaya meningkatkan status gizi ibu hamil dan balita, sekaligus menekan angka stunting di daerah tersebut. Kamis, 18 September 2025.
Pada tahun anggaran 2025, sasaran utama program PMT adalah ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK) serta balita bermasalah gizi. Tercatat sebanyak 769 ibu hamil KEK menjadi penerima manfaat. Selain itu, PMT juga menyasar balita usia 6–59 bulan dengan status gizi kurang, berat badan kurang, dan indikasi gangguan pertumbuhan.
Data Dinas Kesehatan setempat mencatat, penerima manfaat balita terdiri dari 1.719 balita gizi kurang, 936 balita dengan berat badan kurang, serta 1.129 balita yang mengalami masalah pertumbuhan. Seluruh bantuan PMT tersebut telah disalurkan hingga September 2025.
Selain kelompok utama, puskesmas juga memprioritaskan balita dengan kondisi weight faltering atau penurunan laju kenaikan berat badan, serta balita dari keluarga dengan keterbatasan akses pangan dan ekonomi. Penentuan prioritas dilakukan menyesuaikan kondisi wilayah kerja masing-masing puskesmas.
Kepala DKP2KB Sumenep, Ellya Fardasah, melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Desy Febryana mengatakan, jenis bantuan yang diberikan berupa Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan dan PMT Penyuluhan berbasis pangan lokal. Bahan makanan yang digunakan antara lain beras, ikan, tempe, sayur, buah, dan umbi-umbian. Program ini didanai melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) puskesmas.
Selain itu, kata dia, balita bermasalah gizi juga mendapat dukungan Program Kesehatan Masyarakat dan Keluarga Miskin (PKMK), sementara ibu hamil KEK dan anemia memperoleh bantuan tambahan berupa susu yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2025.
“Program PMT bertujuan meningkatkan asupan gizi ibu hamil dan balita agar pertumbuhan berjalan optimal, mencegah gizi kurang dan gizi buruk, serta menurunkan risiko stunting,” kata Desy melalui keterangan tertulisnya.
Ia menjelaskan, Pemerintah daerah juga menargetkan penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam pemantauan pertumbuhan anak, sekaligus memperbaiki sistem pencatatan dan pelaporan gizi melalui aplikasi SIGIZI dan e-PPGBM.
Menurutnya, upaya tersebut sejalan dengan target penurunan angka stunting di Kabupaten Sumenep hingga di bawah 10 persen pada 2025. Berdasarkan data tren prevalensi stunting, angka stunting di Sumenep mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dari sekitar 29 persen pada 2021, turun menjadi 21,6 persen pada 2022, 16,7 persen pada 2023, dan mencapai sekitar 11,2 persen pada 2024 atau awal 2025.
Meski demikian, lanjut Desy, pihaknya masih menghadapi tantangan untuk menutup selisih sekitar satu hingga dua poin persentase agar target di bawah 10 persen dapat tercapai hingga akhir 2025.
“Program PMT berbasis pangan lokal dinilai menjadi salah satu intervensi kunci karena langsung menyasar ibu hamil dan balita dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yang menentukan kualitas pertumbuhan anak,” jelasnya.
Dengan cakupan PMT yang luas dan pelaksanaan yang konsisten, pemerintah daerah berharap penurunan stunting di Kabupaten Sumenep dapat terus berlanjut dan mendekati target nasional. (Dim/red)
