Netranews.co.id, Sumenep – Kapal milik Gelombang Seismik Indonesia (GSI) yang digunakan PT KEI untuk eksplorasi migas dikabarkan telah angkat jangkar dari Perairan Dangkal West Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada Rabu (12/11/2025) sore.
Aliansi Nelayan Kangean mengklaim hengkangnya kapal itu disebabkan oleh perjuangan mereka yang menolak eksplorasi dan eksploitasi migas di laut mereka yang menjadi lahan mata pencaharian masyarakat lokal.
Koordinator Aliansi Nelayan Kangean, Ahmad Yani mengatakan perjuangan mereka membuahkan hasil yang patut disyukuri setelah baru saja menggelar aksi laut sejak pukul 06.00 WIB pagi.
“Tadi kami langsung menemui awak kapal dan langsung tercapai kesepakatan bahwa jam 15.00 WIB mereka akan angkat kaki dari Kepulauan Kangean, dan benar mereka pergi dengan kapalnya,” kata Yani dalam video kirimannya, pada Rabu (12/11) sore.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya perjuangan penolakan dari masyarakat betul-betul memanas hingga terjadi penangkapan sejumlah nelayan dan kisruh pada saat setelahnya.
Kendati demikian, ia meminta agar rekan-rekan seperjuangannya tetap waspada agar tidak didatangi lagi oleh perusahaan migas yang diklaim akan menimbulkan kerusakan sosial dan lingkungan.
“Hal ini memang patut kita syukuri, dan kita juga tetap harus waspada karena mungkin sewaktu-waktu mereka atau perusahaan lain kembali, sampai kapanpun kami akan tetap menolak bumi Kangean dieksplorasi dan dieksploitasi migas,” tegasnya.
Sementara itu, Manager Government Affair KKKS Kangean Energi Indonesia Kampoi Naibaho mengatakan bahwa benar akan ada rencana demonstrasi sejak pagi, namun ia membantah klaim bahwa kapal angkat jangkar disebabkan oleh desakan demonstrasi.
Ia menjelaskan, Itu memang karena sudah hasil evaluasi, monitoring dan semua yang sudah dilakukan itu telah direview dari kapal oleh pihak perusahaan, maka memang direncanakan kapal akan bergeser.
“Jadi bukan karena desakan hari ini, tapi memang di dalam minggu-minggu ini memang sudah direncanakan kapal akan bergeser,” kata Kampoi menjelaskan.
Ia mengungkapkan bahwa eksplorasi sangat tidak memungkinkan untuk distop karena perusahaan memiliki komitmen bersama pemerintah untuk melakukan eksplorasi guna Ketahanan Energi Nasional.
“Kami ini kan berkomitmen dengan pemerintah, jadi kalau mau melakukan apa pun itu harus atas seizin pemerintah juga,” ungkapnya.
Mengenai keberlanjutan eksplorasi migas di laut Kangean, ia belum bisa memastikan langkah selanjutnya sebab harus berdiskusi terlebih dahulu dengan pemerintah.
“Semua monitor, evaluasi dan pengambilan keputusan itu tidak hanya di kami, kita akan diskusikan dengan pemerintah. Jadi kelanjutannya seperti apa, itu nanti pengambilan keputusannya antara kita dan pemerintah,” kata dia menjelaskan.
Lebih lanjut, ia juga memastikan bahwa ke depannya akan terus terbuka untuk berdialog dengan semua pihak untuk memberikan pemahaman lebih lanjut soal ini.
“kami selama ini sudah mencoba berdialog, tapi mereka seakan-akan menutup diri, pokoknya tolak seperti itu kan. Mungkin nanti bisa difasilitasi oleh pemerintah, kemudian kami berdialog, kami siap,” tegasnya.
“Masyarakat termasuk jurnalis media dan semuanya kita akan coba melakukan pemahaman, terutama yang sekarang itu kelompok yang menolak jika mengajak berdialog akan kita fasilitasi,” pungkasnya. (Dim/red)
