Netranews.co.id, Sumenep – Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota (DK) Madura menggelar acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter “17 Surat Cinta untuk Jokowi”, di Universitas Wiraraja Madura. Jum’at, 13 Juni 2025.
Kegiatan ini turut mengundang pemateri dari insan pers dan akademisi, di antaranya Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, Andre Yuris; dan Dosen Universitas Wiraraja Madura sekaligus pengamat kebijakan asal Sumenep, Wilda Rasaili.
Sekretaris Jenderal PPMI DK Madura, Shoumi Safira mengatakan, acara ini dirancang untuk memperkuat pemahaman tentang advokasi jurnalistik dan peran pers mahasiswa dalam mengawal isu-isu sosial dan kebijakan publik.
“Kami ingin menjadikan forum ini sebagai wadah bagi teman-teman pers mahasiswa untuk bertukar gagasan kritis mengenai kondisi bangsa serta mengasah kemampuan advokasi melalui karya jurnalistik,” kata Fira, usai nobar film dokumenter.
Ia menjelaskan, film yang disajikan merupakan karya dokumenter yang menyoroti berbagai isu kerusakan lingkungan dan kegelisahan sosial yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Jokowi.
“Film ini menarik karena membahas isu-isu publik dan kebijakan untuk menjadi pemantik diskusi yang hangat dan kritis di antara para peserta,” jelasnya.
“Kesadaran Pers mahasiswa saat ini harus terus di pupuk dan inilah salah satu giat kami untuk hal itu,” lanjutnya.
Pemateri yang diundang dalam bedah film ini, ketua AJI Surabaya, Andre Yuris turut mengungkapkan kritiknya terhadap pemerintah era Jokowi seperti dalam film itu.
“Regulasi saja ditabrak hanya untuk kepentingan penguasa, regulasi sebagai landasan saja sulit untuk dilakukan” Ucap andre yuris
Sementara itu, Wilda Rasaili juga menyampaikan sedikit analisanya terkait isu kebijakan publik yang dinilai sulit diimplementasikan.
“Pada dasarnya yang paling sulit dari kebijakan itu bagian implementasi” Ujar Wilda.
Acara yang diinisiasi dari gagasan bersama para ketua Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di Sumenep ini berhasil memantik antusiasme peserta.
Diskusi hangat berlangsung setelah pemutaran film dinilai sukses membangkitkan kesadaran mahasiswa untuk lebih peka terhadap kondisi sosial dan politik di sekitar mereka. (Dim/red)
